Beranda > Opini > Mengapa Aceh Miskin?

Mengapa Aceh Miskin?

Selama ini sebagai besar masyarakat Aceh masih dihinggapi rasa penasaran dengan kondisi sosial ekonomi di provinsi paling ujung barat Indonesia ini. Aceh memiliki sumber daya alam yang melimpah sama seperti Papua dan Kalimantan. Namun pada kenyataanya masyarakat Aceh miskin. Bila di pandang dari beberapa aspek baik kekayaan alam, budaya serta kecakapan kualitas sumberdaya manusianya. Kondisi ini mustahil di alami Provinsi Aceh.

Mungkin ingatan kita bisa memutar kembali ke zaman kejayaan Aceh, di mana setelah kemerdekaan, daerah Aceh banyak menyumbang untuk Jakarta. Bahkan sampai Presiden Soekarno menjuluki Aceh sebagai daerah modal bagi keberadaan negara Republik Indonesia. Namun masa keemasan ini tak membekas, tenggelam dan karam di dalam lautan yang dalam yaitu konflik, tsunami dan kemiskinan.

Dalam suatu kesempatan, seorang sahabat saya yang punya kapasitas sebagai insinyur perminyakan mengatakan, ia memiliki beberapa pendapat tentang energi hidrokarbon Aceh. Menurutnya dengan sumber daya alam yang dimiliki Aceh, kiranya mampu mengangkat perekonomian dan menurunkan pengangguran sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.

Untuk cadangan hidrokarbon saja, Aceh dikelilingi sumber daya alam yang tak terbaharukan sangat besar. Jadi tidak masuk akal keberadaan sumber daya alam yang akan diekploitasi menyebabkan masyarakat Aceh tetap miskin, seperti tambang, minyak dan gas.

Untuk minyak dan gas, pantai dan daratan Aceh mengandung cadangan yang sangat luar biasa banyaknya. Untuk mengelolanya dibutuhkan teknologi, biaya yang besar, tenaga kerja yang banyak dan mempengaruhi dampak negatif pada lingkungan hidup.

Yang menjadi pertanyaan siapakah yang berhak mengelola sumber daya alam Aceh? Secara professional, tidak menutup kemungkinan siapa saja bisa mengelola dan mengolah minyak dan gas di bumi Serambi Mekkah. Tapi perlu juga diperhatikan peran penting pemerintah daerah dan masyarakat. Jangan sampai nantinya masyarakat Aceh hanya menjadi penonton.

Mungkin sekedar contoh kita dapat melihat Malaysia dengan Petronas, Venezuela dan Cuba yang mengelola sumberdaya alam sendiri tapi dengan menerapkan teknologi tinggi dan manajemen yang bagus serta 95 % masyarakatnya sendiri yang bekerja dan hanya memiliki 5 % tenaga ahli dari luar negaranya.

Dengan mengelola sendiri dibutuhkan teknorat dan ahli dibidang migas. Menurut hemat saya, untuk memenuhi kebutuhan ini masyarakat Aceh dan pemda bisa mengupayakan pusat pendidikan dan ketrampilan bidang migas dengan beberapa strategi seperti mendirikan pusat pendidikan dan pelatihan di Aceh atau bahkan mengirimkan pemuda-pemuda Aceh ke luar daerah atau keluar negeri untuk belajar tentang migas.

Kemudian dapat juga diterapkan pengelolaan seperti di negara timur tengah. Awalnya di negara Arab, mereka mengontrak tenaga yang benar-benar ahli dengan maksud adanya transfer ilmu dan pengalaman kepada tenaga lokal. Pada akhirnya apabila dalam tempo waktu tertentu sudah mencapai yang diharapkan, maka posisi tenaga ahli asing tersebut dialihkan kapada tenaga lokal yang sudah berkompeten.

Sangat perlu diingat lagi, kekayaan sumberdaya alam, bahan tambang termasuk minyak dan gas, tidak akan bertahan selamanya. Tapi hanya dalam jangka waktu tertentu dan tidak bisa diperbaharui.

Mudah-mudahan Aceh bisa belajar tentang hal ini sebelum hasil alamnya benar-benar habis. Kita berharap pasangan gubernur Aceh yang baru terpilih, Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf dapat membenahi persoalan ini. Dipundak mereka berdualah masa depan Aceh akan terpatri. Memenuhi harapan sebagaian besar masyarakat Aceh.

#Tulisan ini sudah pernah dimuat di situs www.kabarindonesia.com pada tanggal 30 april 2012

Kategori:Opini Tag:, , ,
  1. Oktober 15, 2012 pukul 5:34 pm

    Untuk daerah Aceh yang tercinta, disini mungkin haris harus memprioritaskan beberapa hal untuk menanggulangi kemiskinan, yaitu:
    Pembangunan jangka panjang harus terfokus
    pada daerah yang paling miskin di Aceh, khususnya daerah pedalaman perdesaan dan
    daerah terpencil. Strategi pengentasan kemiskinan hendaknya berfokus pada peningkatan produktifitas pertanian dan perikanan, dan juga strategi peningkatan kemampuan kelompok miskin dan menghubungkan mereka dengan pusat-
    pusat pertumbuhan di wilayah perkotaan..
    Saya yakin pak dengan langkah tersebut mungkin akan sedikit mengecilkan angka kemiskinan di aceh, hanya bagaimana mengelolanya saja, kalo di lihat lagi dari sejarahnya aceh ini kaya dan melimpah aka hasil bumi nya ! Saya yakin pak dengan ada nya pengelolaan yang baik akan merubah aceh lebih baik lagi dan saya yakin mampu keluar dari zona kemiskinan
    Insyaallah..

  2. Oktober 16, 2012 pukul 3:30 am

    Untuk daerah Aceh yang tercinta, disini mungkin harus memprioritaskan beberapa hal untuk menanggulangi kemiskinan, yaitu: Pembangunan jangka panjang harus
    erfokus pada daerah yang paling miskin di
    Aceh, khususnya daerah pedalaman
    perdesaan dan daerah terpencil. Strategi
    pengentasan kemiskinan hendaknya
    berfokus pada peningkatan produktifitas pertanian dan perikanan, dan juga strategi
    peningkatan kemampuan kelompok
    miskin dan menghubungkan mereka
    dengan pusat- pusat pertumbuhan di wilayah
    perkotaan..Saya yakin pak dengan langkah
    tersebut mungkin akan sedikit mengecilkan angka kemiskinan di aceh, hanya bagaimana
    mengelolanya saja, kalo di lihat lagi dari sejarahnya aceh ini kaya dan melimpah aka hasil bumi nya ! Saya yakin pak dengan ada nya
    pengelolaan yang baik akan merubah aceh lebih baik lagi dan saya yakin mampu keluar dari zona kemiskinan
    Insyaallah..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: