Beranda > Artikel > Buat Apa Facebook Diharamkan

Buat Apa Facebook Diharamkan

facebookKetika muncul informasi mengenai status jejaring sosial Facebook yang sedang naik daun diharamkan, beragam reaksi keras dari pengguna internet yang mencela. Mereka mengganggap sikap para ulama pembuat fatwa terlalu berlebih-lebihan karena tidak menyentuh esensi persoalan umat yang paling krusial. Perkembangan teknologi komunikasi harus disikapi dengan cara berpikir untuk kemajuan umat bukan malah melihat sisi negatifnya saja. Bapak Blogger Indonesia dan pengamat internet Enda Nasution[1] menganggap fatwa ulama tersebut seperti kurang kerjaan dan terkesan seperti fatwa lucu-lucuan.

Kehebohan tentang fatwa ini mengemuka setelah muncul berita dari Jawa Timur, dimana para ulama Pondok Pesantren se Jawa-Madura yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pondok Pesantren Putri (FMP3) menyatakan fatwa haram bagi Facebook. Pernyataan ini dikeluarkan saat pembahasan di forum Bahtsul Masail di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtdien Lirboyo, Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Dalam forum itu para ulama menganggap pertemanan spesial berlebihan yang dilakukan di Facebook haram, karena pada Facebook pertemanan yang secara spesial tanpa tujuan keseriusan. Jika pertemanan spesial untuk mengenal dan diteruskan dalam hubungan pernikahan diperbolehkan, namun pada Facebook tidak seperti  proses khitbah (pinangan atau lamaran). Jadi pengharaman ini hanya berlaku untuk pertemanan spesial yang berlebihan saja, namun tetap halal jika sesuai manfaat dan penggunaannya.

Nabil Haroen, Juru bicara Pesantren Lirboyo di acara Kabar Pagi TVOne (26/05) mengklarifikasi via telepon bahwa Facebook tidak haram[2]. Dalam penyampaiannya dapat disimak bahwa yang diharamkan bukan alatnya, melainkan perbuatannya. Maksudnya, Facebook sebagai alat komunikasi tidaklah haram. Namun bila digunakan untuk hal-hal yang tidak baik, misalnya menyebarkan foto porno, jual diri dan lain-lain, maka akan menjadi haram.

Bila mencermati lebih adil, jauh sebelum Facebook ada, penggila internet tentunya sudah terlebih dahulu mengenal situs jejaring sosial, seperti Friendster, Twitter, MySpace dan masih banyak lagi. Semuanya kini telah dikalahkan Facebook. Rata-rata pengguna internet diseluruh dunia telah berpindah akun di Facebook. Di Indonesia[3], Facebook mencatat pertumbuhan pengguna terpesat se-Asia Tenggara pada 2008, yakni sekitar 645 persen menjadi 831.000 pengguna atau akun. Ini mengindikasikan bahwa Facebook benar-benar diserap oleh pengguna internet di Indonesia pada umumnya.

Tapi bersyukurlah, debat kusir halal dan haram Facebook akhirnya berkesudahan dengan cepat karena dimentaahkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. MUI menilai, Ijtima 700 ulama Jawa Timur soal fatwa haram Facebook tidak memiliki alasan mendasar untuk dikeluarkan fatwa haram jika jejaring sosial ini mengandung banyak manfaat bagi umat. Seperti dikutip okezone.com (25/5), Ketua MUI Cholil Ridwan, mengatakan kalau lebih banyak manfaat untuk orang lain seperti untuk berdakwah, menyambung tali silaturrahmi, kenapa harus diharamkam. Semua tergantung bagaimana orang memakai dan memaknainya[4].

Facebook ala Islam

Lucunya umat muslim di Indonesia masih awam dengan jejaring pertemanan sosial ala Islam. Memangnya ada? Nah itu dia, saya yakin informasi yang kita peroleh sering tidak lengkap. Sebenarnya umat Islam punya situs pertemanan yang bernama Muxlim. Keberadaan muxlim.com layak diperhitungkan karena memiliki kesamaan dengan Facebook. Muxlim diklaim sebagai situs jejaring pertemanan muslim terbesar di dunia.

Muxlim adalah sebuah situs pertemanan yang dikembangkan oleh Mohammad El Fatatry, 24 tahun, dari Uni Emirat Arab pada 2006. Ia mengembangkan Muxlim ketika kuliah di Finlandia. Tujuan utama pembuatan Muxlim adalah agar teknologi informasi menjadi bagian gaya hidup muslim. Sedangkan fasilitas yang tersedia sama dengan situs pertemanan pada umumnya dengan berbagai sarana komunikasi dan ekspresi diri. Sebut saja seperti yang disediakan situs pertemanan pada umumnya, mulai dari gambar, video, chat, jajak pendapat, blog, berita-berita dari negara Islam, serta menampilkan profil dengan avatar[5].

Kalau umat Islam punya situs Muxlim seperti Facebook, lalu apakah juga akan ikut dilarang-larang? Menurut si pembuatnya, tujuan utama pembuatan Muxlim adalah agar teknologi informasi menjadi bagian gaya hidup umat Islam. Meskipun demikian, Muxlim tetap menggunakan rambu-rambu kesopanan. Jika ada perkataan sumpah serapah atau berbau porno, sensor pun akan bekerja[6]. Saran saya, kalau sudah ada Muxlim kenapa juga harus Facebook.

Techophobia

Lalu bagaimana kita harus mendudukan persoalan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi untuk kemaslahatan umat? Sederhananya adalah menjadi  tanggungjawab semua pihak. Pemerintah, masyarakat, orang tua, guru serta saringan pada diri sendiri untuk mengambil hal yang positif dari setiap perubahan zaman. Manusia tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi. Oleh sebab itu persiapkan diri untuk menerima dan mengelola teknologi sesuai manfaat.

Pemerintah dan DPR RI pernah dikritik ketika melahirkan Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Penggiat teknologi informasi dan komunikasi tanah air berasumsi kehadiran ITE walaupun berguna untuk menjaga hal negatif namun pada prakteknya jangan sampai menghambat masyarakat dalam memanfaatkan teknologi internet. Bila ini yang terjadi maka pembuat kebijakan sama saja dengan menjilat ludah sendiri karena negara kita sedang giat-giatnya memasyarakatkan penggunaan internet sampai ke desa-desa.

Harus diakui kehadiran UU ITE menjadi Indonesia lebih bergigi di mata dunia, karena selama ini negara kita dianggap negara yang paling lemah dalam mengawasi pengguna internet. Kasus pemblokiran situs youtube.com karena memasang film Fitna yang melecehkan Islam sebagai salah satu contoh usaha pemerintah menjaga perasaan manyoritas penduduknya. Walaupun usaha pemerintah ini baik tapi tetap saja menuai protes dari pengguna youtube.com lain karena dianggap menutup akses mereka ke situs tersebut.

Terserah umat memilih

Terkait langkah larangan-larangan sampai melibatkan pemuka agama mengeluarkan fatwa diharapkan tidak menjadi suatu ketakutan akan efek dari penggunaan media teknologi internet. Para pemuka agama dan cerdik pandai dalam membuat keputusan perlu mencermati perkembangan teknologi dengan arif dan cerdas. Cukup berikan pemahaman dan berikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses teknologi untuk menambah ilmu pengetahuan.

Jangan sampai Indonesia sebagai negara yang berpenduduk muslim terbesar didunia menjadi contoh tak elok dalam usaha memajukan umat. Sikap yang cenderung technophobia sepatutnya tak layak dipertontonkan. Pikir-pikir dulu dengan apa yang hendak haramkan. Jangan membentur-benturkan antara agama dan teknologi, seakan-akan Islam itu tak up to date menerima perkembangan zaman. Tapi justru malah sebaliknya.

Dalam era globaliasasi segalanya mungkin terjadi. Tak ada yang bisa menolaknya. Di bawah kolong dunia manapun arus globalisasi tetap membawa pengaruh bagi manusia. Tapi sudahkah umat dipersiapkan menghadapi era globalisasi? Menurut hemat saya, bila hendak bersanding dalam era globalisasi bukan malah menutup akses informasi yang seharusnya harus dengan mudah diperoleh. Semoga.

* Sudah dimuat di rubrik Fokus Harian Aceh, tgl 29 Mei 2009


[1] Lihat di http://kabarit.com/2009/05/facebook-haram/
[2]
Lihat di http://danigunawan.com/opini/klarifikasi-facebook-haram/
[3]
Lihat di http://www.forumbebas.com/showthread.php?tid=59318
[4]
Lihat di http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/05/25/1/222638/facebook-halal
[5]
Lihat di http://www.tempointeraktif.com/hg/it/2009/03/22/brk,20090322-166076,id.html
[6]
Lihat di http://awamologi.wordpress.com/2009/04/02/muxlim-%E2%80%9Cfacebook%E2%80%9D-versi-muslim/

  1. Juli 17, 2009 pukul 6:21 pm

    wah… serujuga baca blog nya…
    success yah….

  2. Januari 21, 2010 pukul 11:08 am

    hai boleh gabung g di facebook.

    #Neneng : boleh silahkan di masuka links saya…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: