Beranda > Opini > Menggantung Harapan Pada Caleg Terpilih

Menggantung Harapan Pada Caleg Terpilih

Seperti telah diperkirakan banyak kalangan. Hasil pemilu legislatif di Aceh kali ini telah memberi kejutan dalam panggung demokrasi Indonesia. Dimana Partai Aceh yang merupakan partai lokal dapat meraih suara terbanyak, bahkan melampaui perolehan suara partai nasional. Hal ini membuktikan prediksi sebelumnya bahwa signifikasi hasil pada pilkada lalu dapat menjadi tolak ukur untuk menebak partai pemenang pemilu di Aceh.

Terlepas dari kesan carut marut pelaksanaan pemilu kali ini. Perolehan suara mayoritas Partai Aceh membuktikan suasana hati rakyat Aceh yang menginginkan perubahan. Namun pertanyaannya kemudian, mampukan caleg yang terpilih dari partai lokal ini memuaskan harapan masyarakat seperti yang telah dijanjikan dalam masa kampanye. Kitapun mahfum bahwa sebagian besar caleg-caleg partai lokal belum berpengalaman dipanggung parlemen. Oleh karennya pengetahuan tentang birokrasi dan komunikasi politik menjadi prioritas utama untuk mereka pelajari.

Aceh kedepan sangat tergantung pada keputusan-keputusan politik yang disinegikan antara eksekutif dan legislatif. Terbangun komunikasi politik yang sehat antara parlemen dan kepala pemerintahan Aceh. Sejatinya kepentingan membangun dan mensejahterakan Aceh menjadi prioritas utama dari pada bergelut dengan kepentingan politik partai yang kadang merugikan rakyat.

Perdamaian Aceh yang masih seumur jagung masih rentan terhadap eskalasi konflik. Maka perlu dijaga oleh semua pihak. Pesan ini lebih tepat ditujukan pada partai pemenang pemilu di Aceh. Karena sebagai partai yang baru tampil dipentas politik, kematangan partai lokal dalam mengawal pemerintahan butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Apalagi masih banyak persoalan yang dihadapi Aceh sampai saat ini. Sehingga ditingkat internal parlemen sendiri perlu dibangun kerjasama yang baik antara partai lokal dengan partai nasional.

Namun demikian, kondisi politik di Aceh sekarang menjadi momentum untuk menuju Aceh baru. Aceh yang lebih baik dari masa-masa sebelumnya. Provinsi Aceh kembali memberi contoh bagi negara ini dimana kehadiran partai lokal dari rahim MoU Helsinki telah memberi warna tersendiri dalam peta perpolitikan tanah air.

Kini Aceh menjadi laboratorium politik bagi provinsi lainnya di Indonesia. Meskipun pada awalnya muncul suara-suara miring dari Jakarta yang mengkhawatirkan kehadiran partai lokal. Ternyata Aceh dapat membuktikan bahwa keikutsertakan partai lokal dalam pemilu kali pertama ini tidak terjadi chaos atau sesuatu kejadian yang mengganggu pelaksanaan pemilu.

Dalam panggung politik dan demokrasi, Aceh sering kali menjadi perintis bagi Indonesia. Bila kita menengok sejarah, maka apa yang ditulis Prof Nazaruddin Syamsuddin dalam buku Revolusi di Serambi Mekkah, menjadi catatan penting untuk di ingat. Beliau mengatakan, didalam dimensi politik, peranan yang dimainkan rakyat Aceh di masa revolusi 1945-1949 mempunyai makna yang jauh lebih besar bagi republik ini. Dimana peranan itu berkaitan dengan kontribusi rakyat Aceh terhadap integrasi nasional.

Lalu siapa diantara kita yang masih meragukan Aceh? Namun kritik terhadap Aceh hari ini seperti yang disuarakan oleh banyak pihak pasca pemilu patut menjadi renungan semua pihak. Tidak seharusnya kita mencederai demokrasi dengan menghambat pilar demokrasi itu sendiri. Adalah menjadi tanggungjawab bersama untuk memberikan pendidikan politik yang sehat bagi masyarakat. Tidak seharusnya pula saling menyalahkan, menyudutkan dan beramai-ramai menuding pihak lain untuk membenarkan diri sendiri.

Kita jangan lupa bahwa Aceh masih berada dalam masa transisi demokrasi. Masa peralihan yang sangat sensitif untuk dilewati. Aceh adalah daerah yang selalu memberi warna dalam kehidupan politik di tanah air. Sebelumnya tidak ada calon independen dalam pemilihan kepala daerah. Kemudian kesempatan mendirikan partai lokal yang tidak dimiliki oleh daerah lain.

Semua tahapan-tahapan ini harus kita pelihara sekaligus untuk membuktikan bahwa Aceh itu memang beda dengan daerah lainnya di Indonesia. Masa transisi itu kembali diuji dengan keterwakilan mantan GAM melalui partai Aceh di parlemen. Melengkapi wakil-wakil mereka yang telah dahulu duduk menjadi bupati dan gubernur.

Sejatinya suara mayoritas dalam parlemen tidak dikuasai satu partai. Hal seperti ini dikhawatirkan akan berdampak pada keputusan-keputusan yang diambil. Perlu fraksi oposisi untuk menjaga independensi parlemen dari konflik-konflik kepentingan. Lagi pula kita tidak tahu kinerja parlemen Aceh kedepan. Kalau keberadaan caleg-caleg terpilih tak ubahnya seperti yang sudah-sudah. Maka keberadaan partai lokal sama sebagai pelengkap saja. Kita ingin suara-suara dari parlemen mencerminkan suasana hati rakyat aceh pada umumnya.

Prioritas utama yang perlu dilakukan saat ini adalah membangun komunikasi politik dengan partai nasional. Silaturahmi politik sebelum terbentuknya parlemen baru nantinya sangat berpengaruh pada harmonisasi komunikasi politik dalam parlemen. Terutama menyangkut kepentingan Aceh yang harus disuarakan oleh partai nasional ke Jakarta.

Komitmen-komitmen politik ini perlu segera dirancang dan dipertegas karena keterbatasan partai lokal. Akan halnya siapa yang duluan mendekati tentunya masing-masing tokoh partai harus bersikap terbuka menerima masukan. Yang harus disikapi kemudian tidak perlu sentimen di masa kampanye dibuka kembali. Apa yang telah dipilih masyarakat Aceh dalam pemilu lalu maka dengan sendirinya menjadi konsensus bersama untuk diterima. Sama wajibnya dengan menjaga perdamain di Aceh tetap langgeng.

Sekarang bola sudah ditangan anggota dewan terpilih. Akankah parlemen Aceh mendatang memberi warna tersendiri dalam peta demokrasi di Indonesia seperti yang telah Aceh tunjukkan selama ini. Atau malah menjadi pecundang demokrasi di nanggroe sendiri. Semua terpulang pada niat. Semoga tahun ini Aceh menjadi lebih baik. Amin.(*)

Sudah dimuat di Harian Aceh :
http://harian-aceh.com/opini/85-opini/2360-menggantung-harapan-pada-caleg-terpilih-.html

  1. Mei 6, 2009 pukul 10:42 pm

    Semoga…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: