Beranda > Opini > Buah Simalakama Tayangan Televisi

Buah Simalakama Tayangan Televisi

Belum lama ini Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengeluarkan daftar tayangan televisi yang dianggap tidak layak tonton. Peringatan KPI yang kesekian kali ini belum membuat jera pengelola media televisi. Ada sepuluh jenis acara yang dianggap bermasalah seperti Dangdut Mania Dadakan, Rubiah dan Si Entong (TPI). Cinta Bunga (SCTV), Namaku Mentari dan Jelita (RCTI). Extravaganza (Trans TV). Super Seleb Show (Indosiar). Mister Bego dan Mask Rider Blade (ANTV). KPI meminta media televisi segera melakukan perbaikan terhadap tayangan-tayangan tersebut. Bila mereka tidak melakukan perbaikan maka KPI akan menindaklanjuti teguran ini.

Tentu kita sepakat bahwa KPI tidak main-main dalam mengontrol seluruh isi tayangan televisi nasional. Walaupun berbagai surat teguran telah diberikan namun dalam urusan satu ini sikap pengelola media televisi sepertinya menganut pepatah anjing bergonggong khafilah berlalu. Buktinya sampai sekarangpun masih ada saja tayangan-tanyangan tidak mendidik hanya mengejar rating untuk memperoleh iklan. Pengelola media televisi sepertinya menyadari betul masyarakat butuh tayangan hiburan sehingga akhirnya terperangkap dalam agenda setting media. Ketika masalah ini tidak sepenuhnya dipahami masyarakat maka akan terjadi dominasi tayangan televisi yang tidak berpihak pada kepentingan khalayak.

Sadar atau tidak sadar sekarang ini tayangan televisi telah menjadi guru sekaligus orangtua bagi anak-anak. Misalkan ketika berinteraksi dalam kelompok bermain dijadikan acuan dalam berperilaku. Bahkan kadang bertentangan dengan nilai-nilai normatif dan religius yang berasal dari orangtua maupun sekolah tempat mereka tinggal. Sehingga pada kebanyakan anak, remaja dan bahkan orang dewasa sekalipun, siaran televisi sudah menjadi pilihan hiburan yang utama.

Repotnya justru seperti di Aceh yang berlaku syariat Islam. Kebanyakan tayangan hiburan di televisi nasional tidak cocok dengan budaya masyarakat Aceh. Maksudnya bahwa televisi nasional masih berwajah Jakarta sehingga program acara yang disajikan meskipun disukai masyarakat Aceh tapi nuansa acaranya masih jauh dari warna religi terutama sajian tayangan hiburan. Bila disatu sisi masyarakatnya diwajibkan mematuhi hukum syariat namun secara telanjang mata justru masyarakat Aceh dengan jelas dan bebas menikmati siaran yang melanggar syariat. Hal ini sungguh dilematis bagi Aceh.

Coba perhatikan liputan acara hiburan penuh hura-hura, kuis sms, film dan sinetron Islami ternyata jauh dari Islami. Begitu banyak pria dan wanita non-muhrim berduaan, bahkan bersentuhan. Mengajarkan kedengkian, kecurangan dan kesyirikan. Atau lihatlah iklan-iklan yang banyak yg mengumbar aurat, maksiat dan kesyirikan. Ada iklan rokok dan iklan kondom. Bukankah khalayak dipaksakan untuk melihatnya?

Bila media televisi digunakan untuk kebaikan, tentunya didalamnya tidak mengandung tayangan yang dilarang. Tidak ada kebaikan yang dicampur-campur dengan kebathilan, maka tentunya media televisi bisa membantu untuk memajukan umat. Sungguh disayangkan memang bahwa televisi adalah penemuan yang brilian namun sampai sekarang belum dapat sepenuhnya digunakan sesuai dengan syariat.

Sedikit kilas balik kebelakang di tahun 2006 banyak tayangan televisi dipenuhi dengan adegan kekerasan, pornografi, mistik. Saat itu jenis-jenis tayangan seperti ini menjadi primadona di layar televisi nasional. Bentuk tayangan muncul dalam wujud fisik dan psikis berupa perbuatan maupun kata-kata yang terkandung dalam sinetron, film, info gosip, talkshow sampai tayangan olah raga.

Kesalahan media televisi ketika itu sesuatu yang tabu dan melanggar etika malah telah didekonstruksi kembali. Tapi celakanya penonton televisi kita justru menyukai jenis tayangan kekerasan, pornografi dan mistik. Rata-rata rating tayangan acara yang didekonstruksi mendapat respon pemirsa sehingga menarik pemasang iklan. Disini lagi-lagi mengorbankan kepentingan khalayak dengan isi tayangan yang tidak mendidik dan tidak berkualitas.

Banyak tayangan televisi yang merusak cara berpikir masyarakat serta mengajarkan budaya pop dan hedonis. Sebagian tayangan produksi dalam negeri menjiplak mentah-mentah dari luar negeri. Bila mereka beralasan bahwa yang mereka tayangkan terjadi ditengah masyarakat tapi tidak selayaknya digambarkan secara vulgar dan terbuka. Alih-alih maksud media televisi ingin menyadarkan khalayak akan sebuah peristiwa tapi secara tidak langsung telah mengajak masyarakat untuk berbuat seperti itu. Ini akibat media televisi belum peka terhadap perubahan perilaku sosial masyakat akibat kuatnya pengaruh tayangan televisi.

Coba perhatikan, walaupun KPI telah mewajibkan pengelola media televisi memberi kode berdasarkan umur pemirsa pada tiap jenis tayangan program acara namun tetap saja isi tayangan yang dibuat mengabaikan etika. Anehnya, ada acara yang di negeri asalnya diputar waktu malam, malah di Indonesia ditayangkan pada jam anak-anak menonton.

Harus diakui media televisi kita masih latah dalam merangcang sebuah konsep acara. Mereka masih mengikuti gaya barat. Sebenarnya boleh-boleh saja asal dikonbinasikan dengan kekhasan khalayak tanah air yang beraneka ragam jenisnya. Kita juga bisa memaklumi bila media televisi nasional belum bisa sepenuhnya idealis dalam memilih tayangan yang cocok bagi khalayak tapi jangan pula terlalu berpihak pada kepentingan bisnis. Iya, memang sulit karena media televisi tumbuh sebagai bagian dari industri bisnis.

Dengan kata lain dalam industri media televisi ada pertarungan antara kepentingan idealisme dan realita bisnis. Logikanya begini, media televisi sebagai institusi bisnis yang padat modal tidak mungkin mengandalkan idealisme saja karena lambat laun akan bangkrut. Begitu pula jika televisi sebagai sarana mencerdaskan bangsa tidak mungkin hanya mengandalkan bisnis semata. Disinilah letak kontradiksinya bila kita mendiskusikan mengenai isi tayangan televisi yang berpihak pada khalayak.

Industri media televisi berbeda dengan industri lain. Produksi dalam industri media televisi itu pada hakikatnya menghasilkan produk intelektual yang dapat membuat orang menjadi tahu, mengerti, pintar dan terhibur dengan tetap berpijak pada norma, etika dan estetika. Oleh karenanya membuat produk intelektual seperti ini tentunya tidaklah mudah.

Sejatinya semua yang terlibat dalam kegiatan produksi tayangan televisi harus ditopang dengan idealisme tinggi namun tetap tidak mengenyampingkan segi komersial. Jadi singkatnya, siaran televisi tidak hanya harus mendatangkan banyak iklan tetapi juga harus menjadi tontonan sehat dan menarik sehingga tidak menyesatkan. Tentunya dengan tujuan dapat meningkatkan kekayaan batin pemirsa.

Media televisi seharusnya menyadari bahwa ketika fakta hendak disampaikan strategi pengemasan pesan harus dilakukan dengan berpegang pada aspek kode etik, pedoman siaran, dan pendapat masyarakat. Selain itu yang tidak boleh dilupakan bahwa ia juga sebagai media yang mengemban tugas sosial yaitu turut mendidik dan mencerdaskan khalayak melalui setiap kemasan yang ditayangkan. Jadi tidak melulu mengumbar hasrat pasar mengikuti arah kapitalisme media.

Sementara itu bagi khalayak televisi perlu terus ditumbuhkan budaya sadar media agar terbagun budaya dialogisme ketimbang terjebak dalam protret persaingan kapitalisme media. Perlu dikembangkan kreatifitas konstruktif mengantikan kreatifitas destruktif dalam realitas isi tayangan televisi. Juga dikembangkan budaya tanding melalui komunitas-komunitas tertentu untuk menghambat arus tersebut karena media televisi juga tumbuh sebagai industri budaya.

Oleh sebab itu kini dengan kehadiran televisi lokal di sejumlah provinsi dan kabupaten mudah-mudahan dapat mengimbangi dominasi siaran televisi nasional yang sentralistik sehingga khalayak tidak terpaksa menerima setiap tayangan dari Jakarta. Konsep televisi lokal dinilai tepat dalam menyerap keinginan masyarakat lokal akan jenis tayangan yang sesuai selera dan budaya masyarakat setempat.

Kita juga berharap media televisi nasional tidak lagi mengganggu khalayak dengan tayangan yang tidak berkualitas. Berpegang teguh untuk menjaga moralitas anak bangsa, walaupun media televisi bukanlah satu-satunya penyebabnya. Semoga…..

> Artikel ini telah dimuat dalam rubrik Opini suratkabar Aceh Independen, tanggal 26 Mei 2008

  1. Mei 25, 2008 pukul 12:26 am

    Saya sangat setuju dg KPI…

    Anjing megonggong kafilah berlalu adalah pepatah yg sangat cocok dengan kondosi negara kita yg kian memperihatinkan

  2. Mei 25, 2008 pukul 8:12 am

    jangan nonton tv jangan nonton tv!!!

    *akumemilihdemikian

  3. Mei 25, 2008 pukul 12:52 pm

    ada ndak alasan kenapa acara-acara tersebut oleh KPI diminta diperbaiki? apanya yang kurang…

    ah toh semua acara itu memang saya ndak suka:mrgreen:

  4. Mei 26, 2008 pukul 3:04 pm

    Tayangan televisi dibuat kan berdasarkan demand di pasaran; terbukti tayangan yang begitu itu yang disukai oleh masyarakat. Artinya: salahkan masyarakat sendiri dong, yang masih suka dan bikin pemasang iklan makin heboh dan media televisi yang kalap menayangkan tayangan sejenis😀

    Jadi saran saya:
    Kalau tayangan tidak mendidik, ya matikan saja. Cari alternatif hiburan lain yang mendidik daripada capek sendiri menuntut orang lain untuk berubah.
    Itu yang lebih mudah, kayaknya sih..😀

    and btw, saya bukan pecinta TV… hehe

  5. Mei 26, 2008 pukul 3:06 pm

    Berarti TV lokal sendiri harus berperan, untuk saat ini di Aceh sudah ada 3 stasiun Televisi.
    – Aceh TV (Swasta)
    – Kutaraja TV (pemkot Banda Aceh)
    – TVRI (Nasional)
    Tinggal kita yang bisa berubahnya!

  6. Nin
    Juni 21, 2008 pukul 7:13 am

    Mari boikot tivi… sampai mempunyai acara yang bertanggung jawab!!!!

  7. puj
    Oktober 28, 2008 pukul 8:25 pm

    memang yang salah bukan medianya tapi bagaimana manusianya dalam memanfaatkan media tersebut. baik penonton maupun pihak pertelevisian.jika banyak alternatif dari masyarakat guna mengcounter dampak (-)dr muatan media, namun pemerintah no care, so sama juga bohong,tiada perhatian yg serius & tegas serta hukum yang Qot’i sebgai standarnya. membiarkan umatnya tanpa pembinaan iman yang kuat serta maraknya pengaruh asing dari berbagai media ya klop deh kerusakan moral umat.saat ini qt hanya berusaha agar keimanan qt tfk dipengaruhi hal2yg(-).

  8. Desember 1, 2008 pukul 12:46 am

    percuma kpi mengeluarkan daftar tayangan televisi tidak layak tonton karna watak rakyat indonesia memang seperti itu. seharusnya jangan ada daftar itu tapi benahin otak orang indonesia saat ini.

  9. jimmi
    Desember 27, 2008 pukul 3:39 pm

    klw acra yang ky gt mah di ttup aj semua nya…
    g ada mutu nya buat di tonton…
    aku dukung kpi buat nutup acara-acara itu../.

  10. April 30, 2009 pukul 9:21 pm

    kelaut aja tuh acara teve, hehehe

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: