Beranda > Opini > Jejak Kapitalisme Media Lokal

Jejak Kapitalisme Media Lokal

Era globalisasi harus diakui telah membawa pengaruh luar biasa terhadap perkembangan teknologi saat ini, tak terkecuali bagi industri komunikasi modern. Dampak-dampak itu adalah subversi kebudayaan dan ideologi korporat. Dampak nyata globalisasi media adalah sistem kepemilikan global yang menjadi tren industri media massa modern. Kekuatan modal asing mampu berpenetrasi dalam struktur media lokal atau nasional yang pada akhirnya berpengaruh pada masalah transmisi kebudayaan global ke tingkat lebih rendah dalam hal ini nasional dan lokal. Ancaman media global tidak berhenti pada masalah sosial politik saja tetapi masuk dalam nilai-nilai budaya masyarakat.

Pada level internasional operasionalisasi media global ditentukan oleh para pemain media global melalui kantor berita internasionalnya, seperti Asociated Press (AP), Reuters, AFP, dan Interfax. Peran mereka begitu besar untuk menyediakan berita-berita international dan kemampuan mereka untuk mempengaruhi publik. Demikian juga halnya dengan penyedia jasa televisi besar, seperti ABC, CBS, CNN, dan Fox. Perusahaan-perusahaan media global tersebut bergerak ke seluruh penjuru dunia. Korporasi media global selalu mengikuti perkembangan dengan semangat kapitalisme untuk meluaskan sayapnya. Dalam konteks industri dan teknologi, media massa telah memperlihatkan dinamika yang sedemikian dramatis. Lalu bagaimana dengan kondisi industri media di tanah air?

Negara mana pun, merger antarperusahaan besar media merupakan kejadian unik dan menimbulkan berbagai reaksi, baik di kalangan media sendiri maupun di mata masyarakat. Di Amerika dan Eropa misalnya, banyak melibatkan perusahaan raksasa, baik dengan sesama perusahaan yang ada di negara tersebut atau dengan perusahaan lain di dunia, seperti American Online (AOL) dengan Time Warner, Vivendi-Canal+ dengan Universal.

Di Indonesia, beberapa group media telah melakukan merger antara lain adalah Group Bimantara, penguasa bisnis media televisi yang mengkonsolidasi divisi medianya dalam naungan Media Nusantara Citra (MNC) yang mengelola RCTI, TPI, Global TV, Radio Trijaya FM. Belakangan korporasi ini memiliki koran Seputar Indonesia, tabloid Genie dan tabloid Mom & Kiddy. Sementara di pihak Trans Corporation yang terdiri dari stasiun televisi Trans TV dan Trans7. Trans Corporation terbentuk setelah Trans TV membeli 55 persen saham TV7 dari korporasi media Kompas Gramedia. Selain itu, ada ANtv yang telah dimiliki 20 persen sahamnya oleh Star TV Hongkong.

Merger memang pilihan tepat untuk mengantisipasi ketatnya persaingan. Apalagi perebutan kue iklan tak hanya dengan sesama televisi, melainkan juga dengan media cetak dan radio. Dari hasil riset AGB Nielsen Media Research tentang belanja iklan hingga November 2006, meski televisi tercatat sebagai penyumbang terbesar dengan 68 persen (Rp 15,18 trilyun) dari total belanja iklan Rp22 trilyun, ternyata surat kabar yang paling tinggi kenaikkannya, melonjak hingga 23 persen atau Rp 6,06 trilyun dari sebelumnya Rp 4,91 trilyun pada tahun 2005. Dampak dari merger ini antara lain adalah semakin sedikit jumlah industri media yang menjadi aktor dalam industri ini.

Hiruk pikuk perkembangan industri media tanah air belakangan ini dikhawatirkan sebagian pihak. Ini bukan tanpa sebab, merger tersebut dianggap sudah mengarah pada monopoli. Baru-baru ini saja, wakil presiden Yusuf Kalla ikut memberikan komentarnya tentang kepemilikan silang di industri media. Wapres khawatir kepemilikan silang ini seperti sudah mengarah monopoli.

Dalam kaitan merger antarkorporasi media, ada dua pandangan, yang pertama adalah merger dipandang sebagai langkah ekonomi yaitu karena adanya pertimbangan-pertimbangan efisiensi dari pemilik modal. Kedua, sebagai langkah politis, terutama karena keterlibatan tokoh-tokoh politis dan sistem industri media dalam pengambilan keputusannya. Meski demikian, bila dilihat secara umum sikap masyarakat Indonesia dalam menilai isu kapitalisme media (merger) biasa-biasa saja. Sikap masyarakat ini dapat dimaklumi karena dalam prakteknya media dianggap sengaja tidak memilih narasumber yang kritis untuk menanggapi isu seperti ini. Bahkan, beberapa narasumbernya adalah pelaku ekonomi yang bergerak di industri media sehingga pendapatnya cenderung membesar-besarkan dampak peristiwa merger korporasi media ini terhadap perekonomian negara.

Adapun yang patut diperhatikan dalam isu kapitalisme media ini tidak merusak nilai nilai budaya lokal. Artinya, walaupun secara ekonomi menguntungkan, yang harus menjadi perhatian pemilik media kemudian tentunya menyajikan keberagaman informasi, hiburan dan edukasi yang bermutu. Idealnya agenda sebuah media tidak hanya untuk memperoleh uang sebanyak mungkin dari pemasukan iklan. Namun, media juga harus mampu menjembatani kemauan publik untuk menjaga kepentingan ekonomi media. Semoga.

> Artikel ini telah dimuat dalam rubrik Opini suratkabar Harian Aceh, tanggal 26 Maret 2008

  1. sikinlipat
    Maret 18, 2008 pukul 5:35 pm

    sungguh dilematis memang … ! karena itu merupakan lingkaran setan yang di kelilingi oleh : 1. pelaku usaha yg berada di ring satu lingkaran kekuasaan; 2. usahanya yang berorientasi keuntungan; 3. independensi media ??? => bodo amat dengan fungsi kontrol sosial dan edukasi yg bermutu, yang penting kan keuntungannya. Mas .. !!! barang kali garis demarkasi yang kita tarik itu tidak saja antara independesi dan dependisi media, tapi juga antara pelaku usaha (pemilik modal) dengan pemilik kekuasaan => bangun tembok besar dan tinggi disini, gimana ???? Selamat berjuang mas ………. sukses ya ???

  2. dedsatria
    April 27, 2008 pukul 6:30 pm

    Terima kasih pak atas kritikannya….. Memang lain kalau yang kasih komentar mahasiswa program doktoral…..

    Ngomong-ngomong kapan kuliahnya kelar? hehehehe…. Ditunggu pemikiran-pemikiran yang lain.

  3. Januari 3, 2011 pukul 11:04 pm

    saya setuju sekali! tulisan ini satu tema dengan tulisan saya juga, silahkan mampir kalo sempat😀

  4. Februari 9, 2012 pukul 12:44 am

    @Rianadhivira : saya sudah mampir walaupun sungguh telat. Maaf ya..

  1. November 25, 2011 pukul 5:49 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: