Arsip

Archive for the ‘Opini’ Category

Mengapa Aceh Miskin?

Oktober 14, 2012 2 komentar

Selama ini sebagai besar masyarakat Aceh masih dihinggapi rasa penasaran dengan kondisi sosial ekonomi di provinsi paling ujung barat Indonesia ini. Aceh memiliki sumber daya alam yang melimpah sama seperti Papua dan Kalimantan. Namun pada kenyataanya masyarakat Aceh miskin. Bila di pandang dari beberapa aspek baik kekayaan alam, budaya serta kecakapan kualitas sumberdaya manusianya. Kondisi ini mustahil di alami Provinsi Aceh.

Mungkin ingatan kita bisa memutar kembali ke zaman kejayaan Aceh, di mana setelah kemerdekaan, daerah Aceh banyak menyumbang untuk Jakarta. Bahkan sampai Presiden Soekarno menjuluki Aceh sebagai daerah modal bagi keberadaan negara Republik Indonesia. Namun masa keemasan ini tak membekas, tenggelam dan karam di dalam lautan yang dalam yaitu konflik, tsunami dan kemiskinan. Baca selengkapnya…

Kategori:Opini Tag:, , ,

Menggantung Harapan Pada Caleg Terpilih

April 17, 2009 1 komentar

Seperti telah diperkirakan banyak kalangan. Hasil pemilu legislatif di Aceh kali ini telah memberi kejutan dalam panggung demokrasi Indonesia. Dimana Partai Aceh yang merupakan partai lokal dapat meraih suara terbanyak, bahkan melampaui perolehan suara partai nasional. Hal ini membuktikan prediksi sebelumnya bahwa signifikasi hasil pada pilkada lalu dapat menjadi tolak ukur untuk menebak partai pemenang pemilu di Aceh.

Terlepas dari kesan carut marut pelaksanaan pemilu kali ini. Perolehan suara mayoritas Partai Aceh membuktikan suasana hati rakyat Aceh yang menginginkan perubahan. Namun pertanyaannya kemudian, mampukan caleg yang terpilih dari partai lokal ini memuaskan harapan masyarakat seperti yang telah dijanjikan dalam masa kampanye. Kitapun mahfum bahwa sebagian besar caleg-caleg partai lokal belum berpengalaman dipanggung parlemen. Oleh karennya pengetahuan tentang birokrasi dan komunikasi politik menjadi prioritas utama untuk mereka pelajari.

Aceh kedepan sangat tergantung pada keputusan-keputusan politik yang disinegikan antara eksekutif dan legislatif. Terbangun komunikasi politik yang sehat antara parlemen dan kepala pemerintahan Aceh. Sejatinya kepentingan membangun dan mensejahterakan Aceh menjadi prioritas utama dari pada bergelut dengan kepentingan politik partai yang kadang merugikan rakyat. Baca selengkapnya…

Tsunami Kecil di Situ Gintung

Maret 29, 2009 10 komentar

setugintungSungguh tak terbayang oleh masyarakat yang tinggal disekitar Situ Gintung, bahwa mereka akan mengalami nasib serupa seperti masyarakat Aceh yang pernah tertimpa musibah tsunami 26 Desember 2004.  Apa yang terjadi di Situ Gintung persis seperti terjangan tsunami dalam skala kecil, tak terduga, dan memporak-porandakan apa saja yang dilewati tumpahan air dari Situ Gintung.

Media massa baik cetak maupun elektroknik melaporkan kepedihan mendalam. Kita tidak bisa membanyangkan apa yang terjadi di subuh buta itu, ketika 2 juta meter kubik air Situ Gintung tumpah ruah menerobos kemukiman padat penduduk.  Hanya dalam hitungan detik, sama seperti tsunami di Aceh semua rata dengan tanah. Nyawa manusia menjadi tak berharga.

Sampai tulisan ini saya buat, tim SAR  yang dibantu polisi, tentara dan masyarakat setempat masih melakukan pencarian. Bahkan presiden SBY pada hari kedua setelah musibah berharap pencarian korban Situ Gintung perlu terus dilanjutkan. Baca selengkapnya…

Buah Simalakama Tayangan Televisi

Mei 23, 2008 10 komentar

Belum lama ini Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengeluarkan daftar tayangan televisi yang dianggap tidak layak tonton. Peringatan KPI yang kesekian kali ini belum membuat jera pengelola media televisi. Ada sepuluh jenis acara yang dianggap bermasalah seperti Dangdut Mania Dadakan, Rubiah dan Si Entong (TPI). Cinta Bunga (SCTV), Namaku Mentari dan Jelita (RCTI). Extravaganza (Trans TV). Super Seleb Show (Indosiar). Mister Bego dan Mask Rider Blade (ANTV). KPI meminta media televisi segera melakukan perbaikan terhadap tayangan-tayangan tersebut. Bila mereka tidak melakukan perbaikan maka KPI akan menindaklanjuti teguran ini.

Tentu kita sepakat bahwa KPI tidak main-main dalam mengontrol seluruh isi tayangan televisi nasional. Walaupun berbagai surat teguran telah diberikan namun dalam urusan satu ini sikap pengelola media televisi sepertinya menganut pepatah anjing bergonggong khafilah berlalu. Buktinya sampai sekarangpun masih ada saja tayangan-tanyangan tidak mendidik hanya mengejar rating untuk memperoleh iklan. Pengelola media televisi sepertinya menyadari betul masyarakat butuh tayangan hiburan sehingga akhirnya terperangkap dalam agenda setting media. Ketika masalah ini tidak sepenuhnya dipahami masyarakat maka akan terjadi dominasi tayangan televisi yang tidak berpihak pada kepentingan khalayak. Baca selengkapnya…

Citizen Journalism Jatuh Korban

Mei 8, 2008 4 komentar

Perkembangan teknologi informasi telah memberi pengaruh besar dalam bidang jurnalisme media. Biangnya tak lain adalah internet. Keberadaan internet tidak hanya merubah cara kerja wartawan dalam meliput dan mengirimkan berita. Tapi media itu sendiri juga terpaksa harus mengikuti perkembangan ini sebagai sebuah konsekuensi. Rata-rata hampir semua media di dunia, boleh disebut selain terbit cetak juga beritanya dapat di akses melalui internet.

Industri media massa khususnya cetak melihat keberadaan internet bukan sekedar pelengkap dalam mendorong pertumbuhan berita yang bisa disajikan dengan cepat dan dapat dibaca diseluruh dunia. Harian Kompas misalkan sejak membuat Kompas Cyber Media memisahkan pengelolaan edisi cetak dan internet secara tersendiri. Walaupun sebelumnya Republika lebih dulu muncul di internet namun beritanya sama dengan edisi cetak. Begitu juga koran-koran lainnya di Indonesia ketika itu. Baca selengkapnya…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 42 pengikut lainnya.