Sekapur Sirih
Saya terlahir ke dunia pada hari Jum’at tanggal 4 Januari 1974 di kota kecil Matangglumpangdua di Kabupaten Bireuen. Dulu Bireuen sebuah kecamatan yang berada dalam wilayah Kabupaten Aceh Utara. Sejak tahun 1999 Bireuen menjadi kabupaten defenitif terpisah dari kabupaten induknya yakni Aceh Utara. Kota Matangglumpangdua merupakan ibukota Kecamatan Peusangan yang terkenal dengan buah-buahan seperti Boh Giri (Jeruk Bali), pisang dan rambutan.
Kota Matang, begitu warga menyebutnya juga terkenal dengan ciri khas makanan sate yaitu Sate Matang. Sate disaji bersama nasi, soto berkuah santan, bumbu kacang dengan dua pilihan daging kambing dan sapi yang memiliki aroma khas rempah-rempah Aceh. Menurut cerita orangtua saya, sate di Matang muncul kira-kira pada pertengahan tahun 70-an. Seorang penjual ketika itu yakni touke Ali diyakini masyarakat setempat sebagai pioner pembuat sate. Namun orangtua disana tak mengetahui persis kapan sebutan Sate Matang mulai muncul. Mungkin karena berasal dari Matangglumpangdua maka secara generik masyarakat setempat menyebut dengan Sate Matang. Kini seiring bertambah tahun keberadaan Sate Matang sudah dapat ditemui dihampir seluruh kota-kota besar yang ada di Aceh.
Kembali pada awal cerita. Beranjak usia sekolah, saya masuk TK Idhata, SD Negeri 4, SMP Negeri 1 yang semuanya di Matangglumpangdua. Setelah tamat SMP tahun 1990, saya kemudian melajutkan sekolah di SMA Negeri Darussalam (kadang kami menyebutnya SMA 6 Banda Aceh). Usia saya ketika itu baru 17 tahun. Keputusan orangtua menyekolahkan saya ke Banda Aceh karena situasi di kampung mulai “panas” karena saat itu Operasi Jaring Merah atau Daerah Operasi Militer (DOM) mulai gencar dilakukan. Saya ingat betul ketika sendirian naik bis malam hari menuju Banda Aceh terkena sweeping di daerah Peudada (Bireuen) oleh aparat keamanan. Semua penumpang bis disuruh turun kecuali perempuan tetap didalam bis. Satu persatu KTP diminta, badan diperiksa serta baju disuruh angkat sebatas dada. Untungnya saya telah memiliki KTP meskipun umur belum mensyarakatkan ketika itu. Tapi sebelum saya berangkat, orangtua bergegas mengurus KTP jikalau ada sesuatu halangan dijalan. Ternyata dugaan orangtua saya terbukti.
Oya, ketika kelas tiga SMA, saya mulai memasuki dunia penyiaran radio. Saya siaran “percobaan” dipenghujung tahun 1992 dan mulai siaran tetap sejak awal hingga akhir tahun 1993. Adalah Radio TOSS FM di Jl. Taman Siswa No. 86 Banda Aceh yang berkenan menerima saya untuk mengenal dan belajar dunia radio siaran. Kalau ingat dulu waktu pertama kali siaran amit-amit deh, hehehehe…. malu-maluin. Tapi alhamdulillah, saya sungguh beruntung karena penyiar berhalangan datang maka saya “diperkenankan” untuk mencoba siaran sendiri dan akhirnya acara tersebut seterusnya menjadi mulik saya. Tapi lagi enak-anaknya siaran, saya terpaksa tinggalkan dunia radio karena harus melanjutkan kuliah di Bandung.
Cita-cita masuk universitas negeri gagal. Saya tidak lulus UMPTN tahun 1993. Pilihan jurusan ketika itu Psikologi Unpad, Teknik Sipil dan Hukum Unsyiah. Entah mengapa, saya kurang bersemangat untuk kuliah lagi setelah tidak lulus UMPTN. Tapi karena kecintaan saya pada dunia radio, setelah dipikir untung rugi dan diskusi dengan orangtua, lalu saya memutuskan tetap mau kuliah. Dimana? Akhirnya saya jatuhkan pilihan ke kota Bandung. Kok Bandung? ya karena itu tadi saya ingin mendalami bidang ilmu pennyiaran (komunikasi) secara teori agar lebih mantap. Pilihan saya tidak salah memang karena disana ada universitas swasta yang bagus. Pilihan saya untuk kuliah jatuh di Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Islam Bandung (UNISBA). Saya mengambil jurusan yang banyak praktek penyiaran yaitu jurusan Penerangan.
Selama kuliah saya termasuk mahasiswa yang aktif dikampus, namun dari segi prestasi akademik sangat lumayan buat saya sebagai mahasiswa “asing” di Bandung. Kata orang Bandung, saya ini orang seberang, hehehe…. Pernah maju dalam pemilihan Ketua Senat FIKOM tapi kalah secara demokratis. Namun sukses sebagai Ketua Pelaksana Harian Himpunan Mahasiswa Ilmu Penerangan (HIMAPEN) FIKOM Unisba. Beberapa kali terlibat dalam acara besar di kampus, seperti seminar, panitia Ta’aruf fakultas dan universtitas. Selama kuliah pernah ikut kunjungan studi ke jurusan Ilmu Komunikasi UGM, jurusan Ilmu Komunikasi Univ. 11 Maret Solo, jurusan Ilmu Komunikasi Undip, TVRI Bandung, SCTV, Indosiar, Kompas Group, Pusat Produksi Film Nasional Indonesia (PPFNI), Pusat Penerangan (Puspen) TNI Cilangkap, Multimedia Training Center (MMTC) Yogjakarta. Dalam Seminar Nasional Dialog Video Klip (Diadik) yang diadakan oleh himpunan, saya sukses menjadi moderator. Pembicaranya ketika itu, Paquita Wijaya, Oleg Bakhitiar, Narathama dan ada dua lagi saya lupa namanya.
Kuliah saya di FIKOM Unisba benar membuat saya betah. Betah dalam artian kelamaan menyelesaikan studi karena ya itu tadi saya tidak bisa lepas dari dunia radio. Seperti biasa setiap mahasiswa FIKOM diakhir studi diwajibkan untuk magang kuliah. Apakah itu di bidang media cetak atau elektronik. Saya memilih magang di Bandung tepatnya di radio K-Lite FM. Teman-teman banyak memilih Jakarta di stasiun televisi nasional. Dari mulanya hanya magang, saya keterusan nongkrong di K-Lite membantu dibagian redaksi. Hal yang paling berkesan selama saya nongkrong di K-Lite walaupun tidak siaran, saya dipercaya membawa acara kuis Piala Dunia 1998. Saya pikir lumayanlah karena yang penting buat saya bisa merasakan atmosfir penyiaran radio di Bandung. Akibatnya laporan magang hampir setahun baru selesai sehingga untuk memulai menulis skripsi jadi terhambat. Saya sungguh keterlaluan dalam menyelesaikan kuliah, sampai-sampai jurusan berganti nama dari Ilmu Penerangan menjadi Manajemen Komunikasi. Bayangkan bila saya tidak “terlena” di radio maka pada paruh awal tahun 1999 saya sudah jadi sarjana ilmu komunikasi dengan beban studi yang juga berat yakni 158 SKS. Bandingkan sekarang tak lebih 144 SKS. Akhirnya dipenghujung tahun 2000 dalam bulan Ramadhan saya lulus sidang skripsi dan lucunya baru di wisuda dua bulan kemudian memasuki tahun 2001.
Kebanggaan saya semasa kuliah, secara teori dan praktek saya pernah belajar fotografi, produksi siaran radio, produksi siaran televisi dan junalisme radio siaran. Beruntung, dosen-dosen mata kuliah tersebut merupakan guru dan orang tua yang baik. Seperti bapak Pandu yang aslinya dosen Unpad secara teori dan praktek beliau mengajarkan saya (dan kami) fotografi. Bapak Baskara, praktisi radio dari RRI Bandung ngajar Produksi Siaran Radio dan Jurnalisme Radio Siaran. Beliau ini jabatan terakhir sebelum pensiun kepala RRI Jakarta dan seangkatan dengan Ebed Kadarussman semasa di RRI Bandung. Kata pak Baskara, mereka berpisah siaran karena Kang Eded pindah ke radio ABC Australia siaran Indonesia. Dengan pak Baskara meskipun ketika itu sudah sepuh beliau sangat bersemangat membimbing dan mendidik saya dan temen-teman tentang cara membuat naskah siaran sampai proses rekaman. Ataupun RM Hartoko, wah yang ini benar-benar sudah sepuh. Beliau sungguh dosen yang baik dan sangat akrap dengan setiap mahasiswa. Beliau ini mengajar Produksi Siaran Televisi. Seingat saya pak RM Hartoko merupakan juru kamera TVRI Jakarta angkatan pertama. Pak RM Hartoko pernah cerita tentang pengalaman sekolah di Inggris untuk belajar secara khusus sebagai juru kamera.(*)
Saya sekarang…….
Setelah selesai kuliah dan luntang lantung nggak jelas. Akhirnya pada bulan Pebruari 2003, saya memutuskan pulang ke Aceh. Saya mendapat panggilan tes masuk menjadi staf pengajar di Universitas Malikussaleh Lhokseumawe (Unimal). Unimal dulu universitas swasta, sejak tahun 2001 telah dinegerikan. Penerimaan staf pengajar dalam rangka pembukaan Program Studi Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Alhamdulillah, saya diterima untuk menjadi staf pengajar dengan status dosen honor bukan sebagai pegawai negeri. Namun karena perkuliahan baru mulai pada akhir bulan Agustus 2003, saya memutuskan kembali dulu Bandung. Sebab suasana di Aceh tidak kondusif dan mau “meletus”. Apalagi bagi saya hampir sepuluh tahun tidak pernah menetap di Matangglumpangdua. Saya otomatis seperti orang asing di kampung sendiri. Hanya saudara terdekat dan tetangga yang masih ingat wajah saya. Berselang beberapa hari setelah keberangkatan saya ke Bandung, benar adanya pemerintah memberlakukan darurat militer di Aceh. Hmmm… kacau deh kalau saya masih di kampung.
Praktis selama awal pemberlakuan darurat militer saya hanya menonton dan mengetahui lewat media televisi, koran dan internet. Jadilah keseharian saya di Bandung selama empat bulan itu hanya makan dan tidur saja. Parahnya lagi selama di Bandung ini saya sakit kena deman berdarah dan harus diopname di RS Al Islam Bandung selama lima hari (lumayan pake di infus segala).
Baru pada akhir bulan Juli 2003 saya kembali lagi ke Aceh. Begitu sampai di Aceh saya mempersiapkan diri melapor ke Unimal terhadap kesediaan saya menjadi staf pengajar. Maka sejak itu saya telah resmi diterima menjadi staf mengajar dan menjadi dosen angkatan pertama di program studi yang baru saja di buka. Tanpa saya duga, dekan FISIP ketika itu memberi amanah agar saya menjadi Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi. Wah, benar-benar bingung saya ini. Mau nolak nggak mungkin karena orang lain tidak ada hanya saya dan seorang rekan yang diterima menjadi staf pengajar waktu itu. Satu orang lagi sedang menyelesaikan studi S2 di Unpad. Maka bergelutlah saya sebagai staf pengajar dan sebagai ketua program studi. Beban pekerjaan sungguh amat berat dan belum pernah saya lakukan sebelumnya. Lebih-lebih ketika saya harus mempersiapkan dan merombak seluruh isi kurikulum yang ada, menyusun GBPP, SAP, jadwal kuliah dan urusan lainnya yang benar benar tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Saya seperti memulai dari titik nol. Hanya karena idialisme untuk mengembangkan dan memperkenalkan ilmu komunikasi di Aceh membuat sikap saya ikhlas menerima pekerjaan ini. Apalagi dibandingkan dengan gaji dan tunjangan jabatan yang diberikan. Untuk makan dan ongkos pergi pulang Matangglumpangdua – Lhokseumawe saja tidak cukup (jarak tempuh kurang lebih satu jam perjalan naik bis), apalagi buat menabung.
Syukur alhamdulillah, dipenghujung tahun 2003 saya diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagai tenaga pengajar di program studi yang saya pimpim tersebut. Ditengah kesibukan mengajar, saya kembali “rindu” pada dunia radio yang pernah saya geluti. Saya berasumsi, agar kemampuan siaran tidak hilang saya coba kembali “mengudara” di radio Andyta 105.1 FM Matangglumpnagdua. Tidak lama memang hanya beberapa bulan. Kalau tidak salah ingat direntang bulan Maret sampai September 2004. Saya menyerah tak sanggup lagi mengudara karena badan terlalu letih untuk siaran malam hari. Apalagi seharian waktu saya tersita di kampus. Jadi praktis ditengah kesibukan mengajar dan mengurus program studi, saya sempatkan curi-curi waktu untuk siaran.
Dalam hidup saya sungguh beruntung, diberikan pekerjaan dengan mudah dan mendapatkan istri yang cantik. Saya berjodoh dengan kawan satu kelas waktu SMP dulu. Memang unik cerita tentang perjodohan saya ini. Kami “berkenalan” kembali setelah hampir 12 tahun tidak berjumpa, padahal rumah kami tak begitu jauh. Bertaut beberapa desa saja. Kalau naik motor makan waktu tak lebih 7 menit. Ini bisa dimaklumi selepas SMP saya ke Banda Aceh dan setamat SMA saya melanjutkan kuliah ke Bandung. Ya ini memang jodoh. Istri saya bernama Annisah Hanum binti Teuku Muhammad Saleh. Kami menikah pada hari Rabu tanggal 25 Juni 2005 di Mesjid Ibadurahman Desa Meunasah Meucap Kec. Peusangan Kab. Bireuen. Meunasah Meucap merupakan kampung tempat asal istri saya. Namun istri saya pada hari Sabtu tanggal 13 Mei 2006 pukul 23.00 WIB meninggal dunia di RS Kesrem Lhokseumawe. Almarhumah meninggal setelah melahirkan akibat pendarahan hebat. Anak buah cinta kami selamat dan kini tumbuh dengan sehat. Saya berikan nama Ilham Noorhady. Hady ini singkatan dari nama kami berdua Hanum dan Dedy. Padanan kata yang saya ambil dari Amaul Husna. Saya tambahkan Nur menjadi Noor agar kelihatan lebih gagah. Hadi memiliki arti yang memberi petunjuk. Noorhady berarti cahaya yang memberi petunjuk. Atau untuk kami berdua Noorhady berarti cahaya (buah hati) Hanum dan Dedy. Nama Noorhady adalah hasil ramuan kami berdua semasa almarhumah sedang hamil tua. Sedangkan kata Ilham saya dapat setelah anak kami lahir. Dan akhirnya menjadi Ilham Noorhady.
Saya membina rumah tangga praktis hanya sebelas bulan saja. Selebihnya almarhumah telah menjadi ahli surga seperti dijanjikan oleh Allah SWT. Amien ya Rabbal Alamin.
Saya shock berat! karena kami baru saja membina rumah tangga. Untuk membuat tulisan ini, saya sampai meneteskan air mata. Tapi harus saya tulis. Sebagai lak-laki ini pukulan telak bagi saya sekaligus cobaan Allah yang sangat amat berat.
Ditengah kesedihan ditinggal istri tercinta saya harus memutuskan berangkat kuliah atau tidak sama sekali. Awalnya saya nggak mau kuliah lagi, kasihan anak ditinggal. Orangtua saya dan keluarga mertua menganjurkan saya untuk kuliah saja. Mungkin ada benarnya juga. Dengan kesibukan kuliah setidaknya saya tidak terus larut dalam kesedihan. Dan alhamdulillah, saya sejak tahun 2006 menjadi mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi UI bidang kekhususan Manajemen Komunikasi. Tugas belajar saya ini sepenuhnya dibiayai oleh kampus. Hal ini yang membuat saya bisa bernafas lega.
Akhirnya, sejenak saya tinggalkan rutinitas di kampus yang saya rintis dari 2003 sampai 2006. Sekarang saya jadi mahasiswa lagi dan kembali hidup membujang jadi anak kost.(*)
Wassalam
Deddy Satria M
dedsatria@yahoo.com
52 comments so far
Leave a reply







Assalamu’alaikum
Nyan ureueng saboeh gampoeng lon lagoe, tapi hantom meureumpok goe bak FISIP bang. Padahai tiep uroe lewat ret FISIP..
wassalam
Waalaikumsalam….
Abang hana kuliah di Depok karena S2 Ilmu Komunikasi UI kuliah di Salemba. Keudeh u kampus Depok pih hantom meujak, kecuali wate tes tamong thon 2006, hehehehe…… Jinoe abang tinggai di Asrama Foba. Oya, na aneuk T. Kimia UI nyang ka pinah tinggai dari Depok u Foba. Aneuk angkatan padum ka tuwoe??. Oma…. nan pih si agam nyan hana teuingat. Nyang pasti jih aneuk Lhokseumawe. Haha….
Bang silakan neu link nyan beuh (http://acehblogger.org)
blog ron neuh ka lon peutameng…
alumni fikom Unisba ya Bos?
Oiya bang bek tuwe pasang BANNER di blog beh…
code jih na bak alamat blog lon…
ded, aulia nyan pu agam pu dara. pu gobnyan beutoi2 aulia ? ciperiksa, pu na raya tapak ? hahahahaaaaa….. just kidding .. ok ??
Yang belum punya blog ayo bikin blog, hehehe…. iyakan? Dari pada banyak tulisan tugas kuliah jadi sampah dikomputer.
Terima kasih buat semua kawan-kawan yang telah memberi komentar. Saya masih belajar menulis di blog.
Adios muchos…..
salam kenal bang…
Semoga Tuhan mengirimkan kesuksesan dalam segala hal setelah abang lulus dalam UjianNya di tinggal Ibunda Illham….
Mantap mantap…. dah bisa dijadiin biografi nech.
wah..komplit bener daftar riwayat hidupnya..
salam kenal mas..
Bang Dedy, pu haba? Nyan keuh, lheh pu ka mumang ka long jak sikula lom ha..ha..ha…
Na lchat ngon Den sigoe2.
Sukses!
wah makasih lho sudah mampir di blog saya, salam kenal ya.
makasih ya udah mampir blogQ salam kenal yach
salam
Hmm saya turut bersedih dan gimana ya pokoknya kok mengharu biru aja membaca kisahnya.
Sekali lagi salam kenal aja, Semangat !!!!
salam kenal Bang,..
paling tidak, ada satu lagi bloger aceh yang saya kenal
Assalamualaikum Pak Deddy…
salam kenal…
terimakasih sudah berkunjung ke saung saya…
Waalaikumsalam bu Menik…. Terima kasih juga buat semua yg udh nimbrung diblog saya.
Salam Kenal yak…
subhanallah
melihat ini
aku jadi lebih ingin cepat berkeluarga
salam kenal sahabat
assalamualaikum ww
Salam kenal pak Dedy, trims ya udah main ke blog saya. Merinding lho saya membaca kisahnya,
Insya allah dengan keikhlasan Pak Dedy, Allah pasti akan memberikan yang terbaik, Salam buat Ilham
Assalamu’alaikum., saudaraku…
sungguh menarik kisah saudara., dan cobaan yang saudara terima sMOGA menjadi pelajaran dan penambahan iman… amin…
oya., saya senang, saudara-saudara sekalian telah banyak membuat blog, dan telah menambah para penulis kita di indonesia dan disumatra pada khususnya., teruslah menulis dan berjuang dengan tinta dan tulisan.. sehingga dapat berbagi ilmu kepada saudara yang lain,
salam kenal dari Abah, yang masih sangat baru dalam dunia tulisan
and than, salam kenal saudara satria, mungkin saudara juga sering nge link ke sufimuda.wordpress.com,
mari kita maju untuk dalam rahmat TUHAN…
wassalam
abahselatan@yahoo.com
salam kenal saudaraku..
ehmmm haru saru biru sekapursirihya, Temenku ini salah satu org baek yang pernah saya kenal hehehe
Ini bukan sekapur sirih,tapi segudang kapur sirih,yang membuat saya melakukan renungan panjang… tanpa menggurui tapi mengajarkan banyak hal kepada saya.Ah … andaikan saya dapat menulis seperti semua yang di blog ini ….
Terima kasih, kunjungannya ke Puri Permaisuri!
Sesuai saran Bapak di blog saya, saya mencoba memberanikan diri untuk menulis tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga, di blog saya, http://andhieni.wordpress.com.
Mohon saran dan koreksi Bapak.
Oya,pernah tinggal di Bandung ya, 1998 di K-Lite, jamannya demo di gedung sate, salam kenal, salam juga buat keluarga.
Duhh,,, jadi ikut sedih setelah membaca cerita seputar percintaan teman lama dan lanjut ke jejang pernikahan yang tak bertahan lama karena ada suatu musibah,.,.,.,. yang tabah ya bang…. tetap semangat
Semacam ketulusan dalam menulis riwayat hidup. Salam kenal dari saya.
Assalamualaikum wr wb
SOBAT SENASIP SEPERJUANGAN
Pilu juga membaca bait demi bait diari onlinenya
betul betul sebuah realita bahwa HIDUP MEMANG PERJUANGAN
Sobat
Tegarlah dalam prinsipmu
Kuatlah dalam hantaman gelombang menerjang bathinmu
Berjuanglah selalu berjuang
demi untuk orang orang yang kau sayang
Sobat
Hidup bak seekor kumbang
hinggap sebentar diselembar kembang
kemudian lenyap
diterjang angin kencang
Sobat
Semoga semua perjuanganmu adalah Ibadah
yang akan mengaliri kedamaian dan sedekah bagi orang orang yang kau sayang
Sobat
Berdoa dan selalulah berusaha
sobat
tak sanggup lagi aku membaca nukilan goresan jarimu
serasa aku ada disana
sampai airmataku meleleh pana……..
SOBAT
SALAM JABAT ERAT
salam kenal , ceritanya mengharukan , ijin blog nya saya link…
Ohh… silahkan di-link-kan.
Thanks telah mampir di blogku, semoga Aceh semakin maju.Saya berharap sempat ditugaskan kesana lagi….
Assalammu ‘alaikum, Pak..
Kapan saya bisa main ke Aceh ya?
saleum seudara…., met kenal neh
assalamualaikum
aku ikut sedih ngebaca kisah hidup mas yg begitu cepat berpisah dgn istri tercinta..
memang sulit rasanya ditinggal pergi orang yang bener2 kita cintai..
tapi..hidup terus berjalan..jadi tetap semangat ya..
oya..salam kenal
makasi dah berkunjung ke blog aku ya..:)
sering2 ya..
(aku panggil apa ya.. emm bang aja ya….)
salam kenal Bang, semoga tetap kuat bang
mau dong sirihnya, tapi yang mameh
salam kenal
salam kenal
maksii uda berkunjung:D
assalamualaikum, mampir nich… selamat berjuang saudara, semoga sukses selalu…
Salam kenal ya
semoga ini dapat menjadi pelajaran buat kita semua yang membacanya. Ini benar-benar merupakan ujian kesabaran. ” Forbearance Wins The Grace of God “
Assalamualaikum…kang
Aku junior akang di UNISBA (PR angkatan 96) selamat ya dah jadi dosen….
—-
Widodo : Salam kenal juga Wid. Tapi saya tak ingat lagi wajah situ. Hahaha….. yah pokoknya salam kenal lagi deh.
Ass.ww, Dedy mungkin lupa ama ana, ikhsan humas 93, temen2 kita elba,faizal,haikal,iwan n qoyyum, alhamdulillah klo inget. Ana skrg di banjarmasin pulang kampung. Jarang2 ke bdg,yg sering ktmu qoyyum krn istrinya orang banjar.intinya ana senang bisa contak lg.mudahan dedy msh ingat ana
Ikhsan : tenang bro, ane masih ingat kok. Apa kabar….. ker dimana sekrg. Nih YM saya : dedsatria@yahoo.com
Assalamualaikum!
Bereh that blog droeneh, lon salut dan simpati. neu langkah bak blog lon sigeu-geu beh? danijurnalis.blogspot.com atau danijurnalis.wordpress.com
assalamu’alaikum
ruar biasa bang deddy, hehehe…
ane salut ma perjuanganmu, lama ane gak tahu kabarmu en sekarang seolah menemukan sesuatu yg hilang, banyak temen yg lain pada nanya, bgm yah kabarnya bang deddy aceh ini.
alhamdulillah sekarang sudah terjawab.
teruskan perjuanganmu sobat, moga dapat tercapai smua cita2mu, amien.
bolehkan qta dapat info dirimu:
alamat en no telp. trims
Wasssalamu’alaikum
——
#Oji : Waalaikumsalam sahabat. Ni Oji mana ya…? teman kuliah dulu di FIKOM? wah, perasaan ane gak perkemana-mana tp ada dimana-mana. hehehe…. ni YM ID saya : dedsatria@yahoo.com
Saya terharu membaca kisah Perjalanan hidupnya..
Saya do’a kan Semoga diberi kelancaran kuliah S2 nya.
Semoga Ilham mejadi anak yang soleh dan cahaya dalam keluarga..amien.
Jangan lupakan Bandung ya Bang..
—–
# Terima kasih juga. Kok banyak yang terharu dgn kisah hidup saya. Oya, saya sering ke Bandung sehingga tak mungkin melupakannya. Bisa janjian ketemuan nih..
salm kenal dari jakarta
saya alumni unisba angkatan 96 diwisuda thn 2000. sekarang lagi tugas di bna. kapan kita ketemu, kita sering ketemu di kampus. trims
—–
# saya masih stay di Jakarta untuk beberapa bulan. silahkan add saya di e-mail : dedsatria@yahoo.com.
kg hese oge basa aceh teh nya, ngeunah pisan atuh si akg bisa basa sunda…..
—–
# Beberapa kata dalam bahasa Aceh sama dengan bahasa Sunda. Bahkan tulisannya pun mirip karena pakai “eu”. Cuma bagi lidah sunda sedikit susah karena pengucapan bahasa Aceh nadanya ditekan (bunyinya keras). Tapi kalau dibiasakan dan berani tanya-tanya saat beraktifitas dengan masyarakat cepat bisa. Seperti saya ketika belajar bahasa Sunda di Bandung.
subhanalloh…
sebagai adik dibawah angkatan kang dedi..nanda terlambat mengetahui ini semua.. tapi mohon dimaklum karena kita berdua lost kontak dalam beberapa tahun kebelakang..
nanda mengenal sosok kang dedi sewaktu zaman di kampus biru yaitu orang yang kalem.. wibawa.. kadang2 ada juga humornya..tapi memang lebih banyak “bermain” diluar sehingga jarang kumpul2 paling kalo ada evet.. kita minta kesediaannya.. (jadiin job tuuh)
setelah baca kisah kang dedy.. nanda salut dech ama kang dedi.. Allah berikan cobaan seperti itu karena yakin kang dedi mampu melampauinya.. dan alhamdulilah kan?
tapi semua belum selesai, buku belum habis, teruslah berjuang.. semoga selalu sukses.. ilham selalu menjadi motivasi terbesar dalam hidup kang dedi.
good luck
nanda